Terkecoh Jawaban “30 Kilometer lagi”: Catatan Bersepeda ke Pangandaran II (Habis)

1
41

Cahaya lampu dari bus-bus pariwisata memantul pada rintik-rintik hujan, membuat bulir-bulir air itu selintas berwarna perak mengkilat. Dari teras Masjid Al-Mujahidin di tengah Kota Banjar, kami menyaksikan tarian hujan itu.

———————————————————–

Saya benar-benar tak bisa tidur. Baru kali itu memejamkan mata menjadi sesuatu yang melelahkan, padahal sejak kecil saya dikenal pelor alias nempel molor (tidur). Yang ada di pikiran adalah sisa jarak yang mesti ditempuh keesokan hari, jarak yang tinggal sejengkal, sebab menurut Google Maps, dari Banjar ke Pangandaran hanya 42 Kilometer lagi. Sepeda sudah kami naikkan ke teras masjid dengan posisi terjungkir. Kemudi dan sadel berada di bawah dengan maksud menjaga teras masjid tetap bersih dan kami bisa berbaring di dekat sepeda. Dudi bisa tidur, saya tidak. Meski hujan deras, udara di Banjar tetap panas.

Saya nyalakan rokok dan melamun, memperhatikan lalu-lintas di Jalan, hilir-mudik warga Banjar di warnet di seberang Masjid. Lewat tengah malam penghuni warnet berhamburan karena mendengar suara sepeda motor mengebut. Motor RX-King dengan knalpot super bising “digerung-gerung” di depan warnet. “Udag euy! Udag“, seseorang terdengar memberi komando dalam nada marah untuk mengejar pemotor itu.
Sialan, badan sudah benar-benar lelah tapi tak bisa beristirahat. Mengayuh sepeda tanpa henti dari semenjak Subuh hingga Magrib benar-benar merepotkan. Belum lagi ditambah beban yang tak terlalu berguna. Meskipun kami membawa alat memasak dan beras, tetap saja kami berhenti di warung nasi jika waktu makan tiba. Saya akhirnya beranjak untuk kembali berkemas, saya bangunkan Dudi dan pukul 03.00 mulai meneruskan perjalanan.

Saya menerka-nerka jarak 42 Kilometer jika diterapkan di Bandung, mungkin akan sama jarak dari Banjar ke Pangandaran dengan dari Alun-alun Bandung ke Nagreg atau lebih sedikit. Karenanya, meski di tengah gulita subuh dan penerangan hanya dari lampu senter yang diikat karet ban dalam pada stang, mengayuh sepeda serasa penuh tenaga.

Kami pikir karena jaraknya tinggal sejengkal, bolehlah tenaga dikuras agar sepeda bisa melaju lebih cepat dan kami akan lebih cepat sampai. Bukan karena pantai yang kami ingin kunjungi, tetapi karena kejenuhan yang mulai merambat dari perjalanan yang tak juga selesai itu. Matahari mulai muncul, udara dingin menerpa dari sawah-sawah di kiri dan kanan jalan. Pagi menjelma.

Kami rasa sudah sekitar 10 kilometer mengayuh sampai berhenti di warung penjual gorengan. Kami makan secukupnya gorengan dan leupeut. Kami tanya ke ibu pemilik warung apakah Pangandaran masih jauh, dia bilang masih 30 Kilometer lagi dengan dua tanjakan yang lezat. Jalan aspal yang mulus masih basah oleh embun. Roda sepeda kami meluncur di kesunyian jalan itu. Jarang sekali kendaraan melintas di kawasan Banjarsari. Jalan yang lurus semakin membuat jenuh jika tidak disiasati dengan banyak mengobrol dan berubah-ubah posisi duduk.

Rasa-rasanya sudah lebih dari 10 Kilometer lagi kami mengayuh, tetapi begitu kami tanyakan kepada warga setempat, Pangandaran masih 30 Kilometer lagi. Ucapan serupa kami dapatkan lagi waktu berhenti untuk makan. Perempuan berkerudung pemilik warung nasi menyebutkan 30 Kilometer lagi. Kalau dihitung-hitung sudah ada lima orang yang berkata “30 Kilometer”, termasuk pesepeda lokal dari Banjarsari yang hendak menuju Pantai Karapyak. Dia yang menyebut sepedanya sepeda “rokrak” alias ranting karena bentuknya yang ramping mengatakan Pangandaran 30 Kilometer lagi. Padahal, jarak kami bertanya dari satu tempat ke tempat lainnya sangatlah jauh.

Kami jadi yakin Pangandaran masih jauh, dan aplikasi peta di telepon genggam kurang akurat memberikan informasi. Kalau tahu akan begitu, tidak akan kami menghabiskan tenaga sejak mengayuh dari Banjar. Tenaga akan kami simpan baik-baik dan dikeluarkan secara hemat.
Hujan yang sesekali turun menjadi berkah bagi kami, udara menjadi tidak terlalu panas. Termasuk saat melahap tanjakan terakhir yang sangat delicious; Kalipucang. Dari terminal Kalipucang tinggal lurus saja sedikit dan tanjakan itu akan segera terlihat. Bagi pesepeda lokal Kalipucang bukan hal istimewa. Pertama, karena mereka sering melahapnya. Kedua, karena tenaga mereka fresh. Lah, kami, mengayuh dengan tenaga sisa dari Bandung.

Mereka pesepeda lokal tak sedikit yang menyampaikan takjub sebab kami hanya dua orang dan mengayuh dari Bandung. “Alhamdulillah. Hebat!” kata mereka. Bukannya muncul rasa bangga, saya malah merasa khawatir sebab otot lutut sebelah kiri mulai terasa sakit.

Kekhawatiran itu terbukti dan rasa sakit semakin parah. Saya menepi dan meminta Dudi membenarkan letak otot sebisa mungkin. Dia mencobanya tetapi rasanya tetap sakit. Saya mengayuh sangat pelan sekali, beruntung Kalipucang bisa ditaklukan dengan baik, dengan pengaturan nafas perut.
Dari pertigaan Karapyak-Pangandaran, jalanan menurun tajam dengan aspal yang mulus ke arah pantai Pangandaran. Kiri dan kanan adalah tebing berlumut dengan pohon-pohon besar di atasnya. Udaranya sejuk, menghilangkan seketika lelah nanjak di Kalipucang. Jalanan kembali datar sejak Ciputrapinggan dengan udara yang panas.

Gembira sekali bisa merasakan panas yang khas dari kawasan pantai. Panas yang menyengat, kering, namun sesekali berhembus angin. Perasaan gembira juga muncul karena kami bisa menyelesaikan perjalanan selama dua hari. Kami tiba di pantai pada jam 10.11 hari Minggu. Kalau dihitung-hitung, nyaris 20 jam kami berada di atas sepeda.

Kami duduk di sebuah tembok menghadap ke pantai. Saya lalu bertanya apakah ini benar? Hampir tidak percaya kami bisa bersepeda sejauh itu. Angin berhembus kencang. Para anggota klub motor memarkir sepeda motor mereka di pasir pantai. Sejumlah lelaki menuntun kuda mereka. Suara deburan ombak terdengar begitu nikmat dan kalem.

Tinggal ngaboseh deui balikna,” suara Dudi layaknya gelombang Tsunami. ***

Oleh Dian Leuweung