Surat Kecil Buat Semua: Tentang Belajar

0
121

Tulisan ini membahas sedikit hal yang kiranya sering dijumpai dalam kehidupan ketika belajar. Sebenarnya ini terinspirasi dari sebagian kecil artikel di salah satu blog pernah penulis baca bertahun-tahun silam. Tapi berhubung penulis lupa alamat blog tersebut, kiranya mohon maaf jika referensi blog tersebut tidak dapat penulis sertakan. Di sini penulis kembangkan dan menambahkan dari tulisan di blog tersebut dengan pemikiran/ opini penulis.

Penulis sebenarnya bukan berlatar belakang pendidikan, tapi dari pengalaman yang penulis juga yakini pastinya dialami pembaca, kiranya tak mengapa jika tulisan  ini dituliskan. Mungkin bisa dijadikan refleksi perubahan kecil.

Sering saat di kelas, di akhir sesi kegiatan belajar mengajar, bapak atau ibu guru berkata:

Baik anak-anak, mungkin itu penjelasan materi hari ini.  Jika di antara kalian ada yang belum mengerti, silahkan angkat tangan lalu bertanya“.

Penulis kurang tahu apakah guru yang memberi sesi untuk bertanya ini memang sudah dirancang dalam rencana pembelajarannya atau seperti apa.

Tapi sudah biasa hampir di semua kelas/sekolah/kuliah, setelah guru berkata ini, biasanya kelas tiba-tiba sunyi senyap. Di luar kondisi seluruh siswa sudah mengerti, jarang ada siswa mengacungkan tangan dan bertanya. Pasti ada yang belum dimengerti atau dipahami siswa, tapi banyak yang pura-pura mengerti.

Pasti kita pernah mendengar siswa yang sering bertanya saat kegiatan belajar mengajar oleh sebagian teman-temannya (takut) dianggap sok alim, egois, rese, bahkan mungkin pencitraan di depan guru-guru.

Entah dari mana dan sejak kapan anggapan ini ada. Ketidakmengertian akhirnya dipendam. Penulis ingat nasihat seorang guru fisika saat di SMA dulu yang beberapa kali menyindir siswa-siswa dengan nasihat: Kalau ada yang tidak mengerti, bertanya saja. Jangan takut. Jangan mau mempertahankan ketidakmengertian. Jangan mau, maaf, mempertahankan kebodohan. Tapi syukur-syukur jika seorang guru peka, jadi menjelaskan sedetil mungkin.

Jika keadaan ini terus dibiarkan, kiranya kurang baik karena tujuan belajar tidak tercapai, prestasi siswa menurun. Belajar seolah pragmatis: belajar ya, seadanya saja asal bisa ditangkap. Mungkin benarnya salah satu esensi belajar adalah dalam prosesnya kita merasa bingung. Karena proses perlu ruang dan waktu. Terkait ini, sedikit banyak tiap hal perlu ruang bertanya atau ditanyakan.

Guru kiranya perlu senantiasa memberi pemahaman: siswa yang sering bertanya perlu diberi respect bahkan kredit. Tidak dibolehkan mendapat diskriminasi teman-temannya. Bertanya saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) masih ada waktu, kecuali jika memang sudah selesai. Penting saling mengingatkan sesama guru juga agar tidak mudah beranggapan siswa sering bertanya adalah siswa yang sok alim, egois, rese, bahkan mungkin pencitraan di depan guru2.

Ada manfaat siswa berani bertanya. Di antaranya sebagai ruang belajar public speaking mereka. Kemauan dan keberanian berbicara di hadapan khalayak/audiens, perlu diapresiasi

Kita masih ingat ketika dulu di taman kanak-kanak atau sekolah dasar, masa-masa kita begitu antusias dalam belajar. Disertai  kepolosan, kita tidak malu bertanya. Jarang ada teman-teman menganggap siswa sering bertanya itu seorang yang sok alim, egois, rese bahkan pencitraan di hadapan guru. Contohnya: saat guru kita di Taman Kanak-kanak/Sekolah Dasar, bahkan sebelum penawaran untuk bertanya, banyak siswa mengacungkan tangan. Antusias hadir dalam suasana ceria.

Sekarang, ke mana antusiasme masa-masa itu? Kemana keberanian itu? Kemana keceriaan itu?

Entah kenapa ini terjadi. Apakah mungkin saat di mana banyak keadaan sudah kita alami dan mengerti, saat banyak hal tak sesuai harapan, ada pengurangan antusiasme belajar dibandingkan masa-masa kecil dulu. Ada distorsi antusiasme belajar.

Senantiasa memberi motivasi kepada siswa agar berani mengungkapkan ide meski lewat bertanya. Sering mengajukan pertanyaan adalah melatih berpikir kritis.

Perlu selalu menghargai setiap pertanyaan diajukan. Jangan ada anggapan pertanyaan tidak atau kurang berkualitas. Lagi, semua proses perlu ruang dan waktu

Ada benarnya, bahwa kritis adalah saat kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan berkualitas.

Kritis dimulai dari saat kita tidak malu untuk bertanya.

Malu bertanya sesat di jalan lho.

Penulis : Taufan Raihan

Editor : M. Salman Ramdhani