Sebenarnya Kita Sedang Kehilangan Rasa Kehilangan

0
259

Entah dimulai sejak kapan, minimarket dan supermarket hadir di sekitar kita. Yang jelas mereka bukanlah sesuatu yang baru, khususnya untuk kalian yang tinggal di daerah perkotaan. Di zaman yang menuntut serba mudah dan cepat seperti saat ini, tentu akan membuat minimarket dan supermarket lebih dipilih ketimbang pasar tradisional. Dimulai dari ketersediaan barang yang tidak kalah lengkap, kebersihan dan kenyamanan tempat, hingga sistem pembayaran yang lebih variatif dan praktis sudah pasti didapatkan konsumen ketimbang berbelanja di pasar tradisional.

Ada tren negatif yang sudah berlangsung sejak lama, muncul dari minimarket dan supermarket itu sendiri. Yaitu pendonasian uang kembalian, khususnya uang koin. Dengan alasan ketidaktersediaan uang koin untuk kembalian, biasanya petugas kasir menawarkan kepada konsumen untuk mendonasikan sisa kembalian. Yang tanpa disadari, sebenarnya itu adalah sebuah pelanggaran.

Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, pada pasal 15 menyatakan bahwa pelaku usaha tidak boleh  menawarkan barang/jasa kepada konsumen dengan cara memaksa yang dapat menimbulkan gangguan fisik maupun psikis. Sebentar, apakah menawarkan pendonasian sisa kembalian tadi terdengar memaksa? Yang jelas, seharusnya pihak minimarket atau supermarket komit terhadap segala proses jual beli, termasuk dalam urusan pembayaran. Masa uang koin aja ngga bisa nyediain.

Tidak hanya itu, sekitar tahun 2010-an, ada tren negatif yang tidak jauh berbeda. Yaitu, pengembalian uang koin yang diganti dengan permen. Alasannya masih sama, karena ketidaktersediaan uang koin tersebut. Pernah mengalami? Akhirnya pada tahun 2016, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), melarang praktek tersebut karena permen dan barang lain tidak termasuk ke dalam alat tukar yang sah.

Ada yang beranggapan bahwa pengembalian uang koin dengan permen itu bagus, bisa menghidupkan kembali budaya barter yang sudah hilang, tapi pertanyaannya ketika saya membeli barang dengan harga Rp.5.000 sedangkan uang yang saya miliki Rp.4.700, apakah sisa Rp.300-nya bisa saya ganti dengan permen?

Berbicara masalah alat tukar, mengingatkan saya pada masa jauh sebelum kita menggunakan uang kertas seperti hari ini. Manusia sudah melakukan aktivitas tukar menukar baik berupa barang maupun jasa. Namun tidak menggunakan uang seperti yang kita gunakan sekarang, ada istilah barter yang nilai tukarnya masih dianggap ralatif. Mulai dari garam, padi, ataupun bahan pangan lainnya. Namun, seiring perkembangan zaman mulailah diberlakukan alat tukar yang mempunyai nilai tukar standar yang membuat relatifitas penukaran sudah tidak ada lagi. Dimulai dari koin berbahan dasar emas dan perak atau dalam istilah islam kita kenal dinar dan dirham. Sebelum akhirnya muncul uang kertas.

Terdapat beberapa versi sejarah yang menjelaskan tentang asal-usul uang kertas, salah satunya ada yang menyebutkan bahwa uang kertas pertama berasal dari Tiongkok, yakni pada masa Dinasti Tang pada tahun 618 masehi. Di saat bangsa lain masih berat-berat membawa koin emas, bangsa Tiongkok sudah menggunakan kertas sebagai jaminan penyimpanan koin-koin emas mereka, yang kemudian disepakati menjadi alat tukar yang sah pada saat itu. Akibat tren tersebut, akhirnya setiap negara pun memberlakukan sistem yang sama, penerbitan sertifikat kertas sebagai penjamin emas.

Di Indonesia pun demikian, penggunaan uang kertas sebagai alat tukar mulai berlangsung saat penjajahan Belanda, Belanda menerbitkan sertifikat-sertifikat yang juga berfungsi sebagai jaminan penyimpan emas. Meskipun secara material kertas bernilai rendah dibandingkan dengan emas, namun secara nominal bisa lebih berharga karena adanya kesepakatan dari pemerintah dan masyarakat. Hingga saat ini uang kertas masih menjadi alat tukar yang sah di seluruh dunia.

Dengan hadirnya uang kertas, yang dianggap sebagai puncak dari lahirnya paham matrealisme, tanpa disadari sebenarnya kita sudah dipaksa untuk kehilangan harta yang kita miliki sebelumnya yakni emas atau perak. Yang kemudian dikonversi menjadi kertas sebagai jaminan penyimpanan emas atau perak tersebut. Tidak bermaksud menyalahkan manusia terdahulu yang menyepakati hal itu, tapi maksudnya, manusia macam apa yang mau-maunya menukarkan emas dan perak dengan lembaran kertas yang jika terkena air saja akan rusak dan hilang tak berbekas. Berbeda dengan emas dan perak, walapun dibakar tidak akan memengaruhi wujud aslinya sebagi logam, secara berat tidak akan berkurang yang tentu saja secara nilai pun tidak akan terpengaruh. Emas satu gram jika dibakar, ya akan tetap satu gram dan tidak akan berubah menjadi arang atau abu.

Atau saya curiga sebenarnya selain keturunan Adam dan Hawa, manusia juga keturunan Qorun si kaya raya yang gemar menimbun harta? Tak ingin kehilangan harta yang dia miliki lalu ditimbunlah harta tersebut. Hampir serupa dengan kebiasaan kita, berlomba-lomba menabung uang di bank dengan alasan keamanan dan kembali urusan kemudahan. Kita akan dibekali kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) agar bisa mengambil uang jika diperlukan dimanapun, kapanpun tanpa harus mendatangi pihak bank.

Dengan dalih kemudahan, akhirnya semua terjadi. Hari ini kita menggunakan kertas bernominal sebagai alat tukar yang sah diseluruh dunia. Dari mulai membeli kebutuhan sehari-hari, membayar iuran, atau transaksi lainnya. Tidak cukup sampai situ, seiring dengan perkembangan zaman, metode pembayaran pun semakin variatif. Hari ini kita kenal dan tidak asing lagi dengan metode pembayaran non-tunai atau e-money. Kita digaji oleh perusahaan atau dimana pun tempat kita bekerja kebanyakan sudah dengan cara transfer bank. Kita membayar tagihan listrik, air, telepon, atau tagihan tagihan lainnya sudah bisa dengan cara non-tunai.

Dengan hadirnya metode pembayaran menggunakan e-money, secara tidak sadar sebenarnya kita kembali dipaksa untuk kehilangan uang yang kita miliki, dan entah kemana larinya uang fisik kita. Aman di bank? Yakin uang kita benar-benar tidak berpindah tangan? Yakin uang kita tidak digunakan untuk kepentingan pinjaman bank? Tapi akan lebih kompleks lagi jika kita bahas aliran uang yang kita simpan di bank yang kemudian digantikan dengan kartu tipis dan angka digital di dalam mesin. Yang jelas dengan hadirnya e-money, pada dasarnya hari ini kita telah kehilangan rasa kehilangan.

Wallahua’lam Bishawab…

 

Penulis   : Maulana Fil Husni
Editor     : Enhuza
Ilustrasi : klikhukum.id