SALAH ORIENTASI DALAM PENDIDIKAN

0
163

Menjadikan anak pintar itu mudah, namun membuat kepintaran anak menjadi sebuah keberkahan itu yang susah. Mendidik artinya mengolah manusia, memberikan pengajaran kepada manusia yang bertujuan untuk mencetak manusia-manusia unggul (beriman dan bertaqwa).

Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu menjadikan orang yang di didik lebih cinta kepada Rabb-nya, menjadikan kewajiban-kewajiban pokok sebagai penyejuk jiwanya, dia lebih bisa menikmati ibadah-ibadahnya.

Sampai saat ini saya masih belum bisa mengerti ketika pertanyaan pertama yang keluar pada anak oleh orangtuanya tentang sekolah adalah:

“dapat nilai berapa?”

“rangking berapa?”

“salah berapa?”

Yang seolah-olah semuanya hanya diukur dengan angka, dan angka adalah satu-satunya representasi dari kebahagiaan lahir dan batinnya.

Dari situ, saya mencoba merenung, apa tujuan mendidik? Apa hanya sebatas untuk membuatnya pandai menulis, berhitung, dan membaca? Tapi hati mereka tidak bisa merasa.

Apa sebenarnya tujuan orangtua memasukan anaknya kedalam lembaga pendidikan? Apakah hanya sekedar untuk mendapatkan angka 100, menjadikan anaknya pandai dan pintar, namun hati mereka mati rasa?

Atau hanya sekedar memuaskan ambisi orangtuanya, yang tidak bisa diraih semasa mudanya. Tapi biasa saja jika anak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang hamba, atau bahkan mungkin ada yang begini:

“Saya memasukan anak saya di lembaga A, B, atau C supaya dia baik agamanya?” Sementara dia tidak sadar bahwa madrasah pertama dan yang paling utama adalah rumah dan orangtuanya.

Baik, bukankah yang membedakan kita dengan makhluk ciptaan Allah lainnya adalah AKAL dan juga HATINYA. Keduanya hidup sebagai tanda syukur kita kepada Rabb kita, keduanya harus sama-sama hidup dalam keadaan yang seimbang.

Sayangnya, sekarang banyak pendidikan yang lebih fokus pada penajaman akal, yang hanya berorientasi pada pada hasil yang berupa deretan-deretan angka. Melahirkan manusia-manusia yang kompetitif yang hanya bisa menghasilkan manusia pintar saja.

Padahal, jika kita melihat, sudah banyak sekali manusia-manusia pintar yang bermukim di bumi ini, banyak orang yang berhasil menjuarai olimpiade-olimpiade bidang apapun yang hidup di bumi ini.

Tapi, mereka melupakan urusan hati, melupakan urusan ruhani. Jika ditegur masalah agamanya di sebut SARA, jika di ingatkan masalah sholatnya, itu adalah hak pribadi tanpa harus dicampuri oleh orang-orang disekitarnya. Tapi ketika dipuji atas keberhasilan, dia dengan bangga mengatakan ini adalah hasil kerja keras saya, padahal ada Dzat yang memiliki peran yang sangat penting atas keberhasilannya.

Padahal, jika banyak orang pintar yang memiliki otak yang pintar tanpa memiliki hati yang sehat, maka akan berpotensi membuat temuan yang membawa bencana. Dan jika ada penguasa yang tidak memiliki hati, maka akan berpotensi menjadi pemimpin yang serakah dan menindas rakyatnya.

Wallahu ’alam bishawab.

Mohon maaf apabila ada tulisan saya yang kurang berkenan di hati anda

Klaten, 25 November 2018

Penulis : Elva Erawati

Editor : Huza