Permohonan Maaf yang Mendadak Murah

1
576

Ramadan berlalu, timeline media sosial dipenuhi dengan berbagai macam ekspresi kesedihan atas kepergiannya. Dari mulai ungkapan penyesalan sebab tidak bisa memanfaatkan momen ramadan dengan aktivitas ibadah yang maksimal, sampai harapan agar dapat bertemu kembali dengan ramadan berikutnya.

Selang beberapa waktu kesedihan itu berlalu. Berganti dengan ekspresi kebahagiaan merayakan hari raya idulfitri bersama keluarga. Semua orang pamer foto kemesraan dan menunjukkan betapa bahagianya berkumpul dengan keluarga, sekaligus mengisyaratkan betapa langkanya momen tersebut. Iya, satu tahun satu kali.

Hal yang lebih lumrah dari kebiasaan itu semua saat idulfitri adalah saling maaf memaafkan. Orang Indonesia menyebutnya halal bi halal, meski entah dari mana sebutan itu. Tapi ketahuilah sebutan halal bi halal hanya ada di Indonesia.

Terlepas dari perdebatan tidak adanya contoh dari Rasul tentang budaya maaf memaafkan, aku tidak sedang membahas perdebatan itu. Hanya saja ku fikir, budaya itu ada sebab adanya pemaknaan setelah umat muslim melalui proses menahan lapar, haus, dan menahan diri dari segala macam bentuk dosa selama satu bulan penuh dengan harapan mendapatkan ampunan dariNya. Lalu disempurnakanlah harapan itu semua dengan permohonan maaf kepada sesama pada hari raya idulfitri agar sempurna kemenangannya, kembali kepada fitrahnya, berguguran dosa-dosa kepada sesama dan tentu kepada Tuhannya.

Maka kemudian, timeline media sosial dan room chat baik grup maupun personal chat semuanya berubah. Beralih topik menjadi permohonan maaf kepada warganet sekalian.

Mulai dari WA, facebook, instastory semua melayangkan permohonan maaf dengan bermacam-macam bentuknya. Dari mulai yang sangat biasa, kemudian yang hanya copy paste dan ganti signature. Dan ketahuilah diantara mereka sampai ada yang rela berjam-jam atau bahkan seharian berfikir untuk merangkai kata ucapan permohonan maaf melalui broadcast message.

Adapula yang sampai membuat poster diri sendiri atau bersama keluarga untuk dijadikan bahan broadcast. Kalo sekelas pejabat, atau orang penting lainnya pasti membuat baligho atau banner untuk dipasang di tempat umum, apalagi sekarang musim pilkada banner-banner ucapan selamat idulfitri dan permohonan maaf menjadi hiasan sepanjang jalan. Bersyukurlah, setidaknya banner-banner itu bisa mengalihkan ingatan kita tentang bayangan dia di sepanjang jalan kenangan. Haha

Sumber Foto: motivasinews.com

Aku mau ambil contoh whatsapp sebagai aplikasi chit chat yang banyak orang gunakan. Coba buka grup whatsapp-mu, hitung berapa banyak orang yang kirim broadcast (BC) ucapan selamat lebaran dan permohonan maaf? Nyaris hampir semua anggota grup bukan? Tapi, sekarang coba perhatikan berapa banyak orang yang merespon BC permohonan maaf teman kita di grup? Satu, dua, tiga, atau bahkan tidak ada sama sekali? Aku bisa menebak alasannya, karena orang sudah bosan sehingga dengan terlalu banyaknya BC kata-kata indah permohonan maaf yang itu hanya euforia yang terlupakan esensinya.

Seketika aku lebih rispek pada ibu-ibu di masjid yang sampai bercucuran air mata saat saling maaf memaafkan dengan karib kerabatnya.

Tahun ini, aku termasuk yang belum merespon baik di grup maupun personal chat. Sampai tulisan ini terbit, belum ada BC melalui PC yang aku respon dengan seksama. Belum, bukan berarti tidak akan. Aku hanya masih berfikir bagaimana agar rutinitas saling maaf memaafkan ini tidak hanya menjadi ceremonial dan atau formalitas belaka (khusus untuk warganet yang tidak bisa bertatap muka dengan karib kerabatnya).

Begitulah, semakin banyaknya BC permohonan maaf, seketika itu permohonan maaf menjadi murah, terlalu banyak berseliweran dimana-mana. Hingga BC permohonan maaf ini menjadi tidak jauh berbeda seperti BC mama minta pulsa.

Lalu orang abai dan malas memaknai dengan seksama betapa dalamnya esensi dari permohonan maaf sesungguhnya yang mereka tulis dan layangkan melalui pesan singkat tersebut. Permohonan maaf yang berarti saling membebaskan segala macam bentuk kesalahan yang pernah dilakukan dan agar menjadi halal saat momen idulfitri.

Kemudian ini menjadi bukti betapa terbatasnya dunia maya. Kita tidak tahu permohonan maaf yang tidak kita respon melalui BC, mungkin adalah permohonan maaf yang tulus dari pengirim. Mungkin sengaja ditulis sambil mengingat-ingat kesalahannya kepada kita. Mungkin.

Dan mungkin memang seribu satu orang yang begitu menulis permohonan maaf sambil benar mengingat-ingat kesalahannya, dan sudah membebaskan kesalahan karib kerabatnya.

Maka, di tengah masih banyaknya permohonan maaf berseliweran dimana-mana setidaknya kita bisa lebih bijak menyikapi euforia itu semua.

Untuk kamu para penulis dan pengirim BC, baik yang hanya copy paste atau tidak, sebelum pesan itu dikirim, cobalah sejenak hadirkan diri dan segala kerendahan hati saat mengirim pesan permohonan maaf, bahwa benar kamu sedang meminta dibebaskan kesalahanmu dan agar permohonan maaf itu tidak berujung pada euforia belaka.

Dan untuk kamu para penerima BC, jangan malas untuk merespon, minimal akadkan dalam hati bahwa benar kamu telah memaafkan dan membebaskan segala kesalahan mereka. Terutama kesalahan dia yang memilih pergi begitu saja. #loh

Terakhir, pun aku. Bersama tulisan ini, mohon dengan seksama disimak dari dalam lubuk hatiku aku meminta maaf lahir dan batin atas segala kesalahan yang pernah ku perbuat.

Selamat merayakan hari kemenangan, selamat saling membebaskan. Sebab kebebasan adalah hak segala bangsa, bebas dari segala perbudakan kerasnya hati untuk mengikhlaskan segala kesalahan anak manusia pada kita.