Mantan Penganut Teori Konspirasi

0
432

Saya ingat sekitar usia 5-8 tahun, sebelum/setelah waktu salat subuh, saya suka diajak Uwa (sebutan untuk kakak dari orang tua) ke Cikapundung-Bandung. Beliau salah satu agen surat kabar nomor satu di Jawa Barat waktu itu, Pikiran Rakyat. Semua agen dan loper ada di sana untuk melakukan proses sortir berbagai macam koran agar segera didistribusikan kepada pedagang eceran dan pelanggan se-Bandung Raya.

Dengan penerangan lampu jalan, duduk di sebuah lahan beralas dus bekas samping sungai Cikapundung saya melihat-lihat berbagai macam koran dan membaca majalah Bobo juga tabloid Fantasi favorit anak-anak waktu itu. Ditambah sarapan bacang hangat dan susu murni yang segar di waktu matahari masih terlihat sedikit di ufuk timur. Dari sinilah minat baca saya muncul dan meluap.

Mungkin sama seperti anak-anak SD waktu itu, saya juga sering membaca komik Doraemon, Detective Conan, Dragon Ball, Patlabor, Donald Bebek dan lain-lain. Di sekolah juga, tukar-menukar bacaan komik adalah hal yang lumrah antar sesama murid. Aktivitas itu kadang sampai membuat orang tua datang ke sekolah untuk mengambil komik yang dirampas akibat dibaca saat jam pelajaran berlangsung.

Semakin tinggi kelas waktu SD, semakin beragam pula bacaan. Saya mulai iseng membaca majalah dengan konten religius seperti Risalah dan Sabili. Waktu itu lagi panas-panasnya tragedi gedung WTC (World Trade Center) dan isu terorisme Islam. Saya jadi emosional sama Amerika dan Israel, darah juga seolah mendidih membaca soal fitnah dan peperangan yang mereka lancarkan di Timur Tengah sana.

Satu waktu, karena sedang ramai tayangan-tayangan Reality Show mistis dan mainan jelangkung-jelangkungan, saya menemukan buku Muhammad Isa Dawud yang berjudul dialog dengan Jin Muslim. “Wah ini biangnya!”. Mungkin itu yang terbesit di pikiran saat membaca buku luar biasa tersebut. Persekongkolan Jin dan Manusia adalah biang penindasan umat Muslim dunia. Dilanjut lagi baca buku Isa Dawud yang lain; Dajjal akan Muncul dari Segitiga Bermuda. Makin panas dinginlah pikiran.

Sampai menginjak SMP, saya menemukan buku Jaring Gelap Freemasonry karya Ustaz Marsedeq. Pikiran mulai berimajinasi membayangkan dahsyatnya konspirasi musuh Islam yang telah merasuk ke berbagai sektor. Ditambah referensi lain dan ikut diskusi di berbagai tempat, ngacaprak (obrolan melantur) saya makin menjadi. Guru Sejarah Peradaban Islam sampai mengingatkan untuk fokus membaca buku-buku pelajaran saja.

Awal SMA, bacaan semakin beragam. Setelah mengikuti Latihan Kepemimpinan yang dibuat Pelajar Islam Indonesia, saya tertarik membaca buku yang berbeda. Awalnya dari menemukan buku Sekolah Gratis karya Utomo Danandjaya, mendiskusikannya dengan beberapa kawan, sampai membaca buku-buku sejenis seperti Orang Miskin Dilarang Sekolah, Pendidikan Kaum Tertindas, Sekolah Itu Candu, dan sebagainya.

Akhirnya saya menemukan realitas yang berbeda, lebih nyata. Jadi sering dipanggil ke ruang BP karena marah akibat teman akan di-drop out, pungutan sekolah yang kemahalan, dan teman yang tidak bisa ujian karena kesulitan bayar uang bulanan. Ujian praktek pidato bahasa Indonesia pun sampai dihentikan guru karena isinya tentang ketidakadilan sistem pendidikan Indonesia. Tapi tetap dapat nilai yang memuaskan.

Tanggapan atas Ramainya RK dan RB

Sebuah klaim, saya memahami apa yang dirasakan Ustaz Rahmat Baequni (RB). Beliau sama seperti saya yang pernah membaca buku Muhammad Isa Dawud. Bedanya mungkin dari usia, saya baca itu waktu kelas 6 SD, nggak tau kalau beliau bacanya kapan. Saya bisa memahami apa yang RB rasakan; kemarahan, kejengkelan, rasa semangat, juga percaya diri untuk memberi tahu banyak orang akan ancaman yang tidak terlihat tapi terasa. Umat harus tahu, titik.

Dan RB telah menemukan pasarnya, ceramahnya yang diunggah berbagai channel Youtube yang kalau dijumlahkan videonya telah disukai oleh ratusan ribu orang. Lihat juga video atau potongan video dari acara MUI Jabar yang mengundang Ridwan Kamil (RK) atau Kang Emil dan RB, tentang hebohnya Masjid Asshafar. Aula Pusdai dengan kapasitas ribuan pun tidak cukup menampung audience yang hadir, sampai meluber keluar. Rata-rata meneriakan “huuu…” saat Kang Emil menyampaikan materinya berdasar keilmuan yang ia pahami.

Dulu yang saya rasakan, teori-teori konspirasi selalu membuat saya terancam. Dan nyatanya memang peringatan ancaman selalu ada penikmatnya. Topik-topik konspirasi mampu membius masyarakat untuk percaya. Mungkin bisa sampai tingkatan candu atau bahkan paranoid. Tapi sebenarnya teori itu sulit dibuktikan secara ilmiah. Contohnya bagaimana membuktikan UFO adalah kendaraan Dajjal?

Apakah jemaah penikmat teori konspirasi kebanyakan berasal dari daerah atau negara dengan tradisi ilmiah yang rendah? Saya belum tahu pasti soal ini. Tapi jadi catatan, Indonesia masih rendah dalam urusan tingkat literasi, publikasi ilmiah, dan lulusan pendidikan. Perbandingan yang baca buku saja satu dari seribu. Ditambah sekarang dapat informasi yang asal jadi saja lewat sosial media.

Berarti saya merendahkan penikmat konspirasi dong? Lho, meskipun akhirnya pindah haluan, saya juga masih iseng baca yang begituan. Tapi untuk konsumsi pribadi dan tidak candu seperti dulu.  Bagi saya selevel penceramah kondang atau Ustaz harusnya mengingatkan dan mengarahkan pentingnya tradisi berpikir ilmiah, menjaga perilaku jemaah dan pemberdayaan umat.

Bagi RK setelah kemarin ramai urusan cocoklogi, tugas penting selanjutnya adalah kembali mengarahkan warga Jawa Barat ataupun Netizen di manapun mereka berada untuk kembali konsen terhadap urusan pembangunan yang lebih riil, sekali lagi, lebih riil, iya lebih nyata. RK sendiri dari dulu termasuk jajaran influencer, pasti mudah untuk kembali membangun opini. Harus hati-hati juga,  karena bisa saja ke depan akan ada  gangguan yang kalau diukur kecil, tapi kalau udah berisik, ribet.

Tapi tunggu, apakah niat baik MUI Jabar membuat acara tabayun kemarin sebenarnya ditunggangi agenda illuminati untuk menyebarkan pengaruh simbolnya? #LangsungDilemparSendal

 

Penulis : Muhamad Salman Ramdhani
Editor   : Impiani
Ilustrasi  : cdn.yukepo.com