Lelah Ditanyai: Kenapa Sih Cewek Bandung Cantik-Cantik?

1
747

Aku tidak mengerti, apakah ada suatu tanda yang tidak terlihat di jidatku yang kerap membuatku disalahsangkai sebagai orang Bandung. Why People!

Informasi penting yang harus kita ketahui bersama pertama-tama adalah aku bukan warga Bandung. Kampung halamanku adalah Cianjur. Bandung dan Cianjur memang sama-sama termasuk wilayah administrasi Jawa Barat, tapi ayolah, Jawa Barat bukan hanya Bandung.

Terhitung dari penghujung November 2017, aku berangkat ke sudut timur pulau Jawa, yaitu Pare, Kediri. Pantas rasanya aku sebut kota termulia untuk pelarian. Mengambil jeda kehidupan dan bernafas lebih panjang.

Pare atau akrab dengan sebutan Kampung Inggris adalah tempat berkumpulnya segala jenis etnis Nusantara. Mereka selalu mengiraku berasal dari Bandung. Dan pernyataan ini sering terlontar padaku “eh kenapa sih cewek Bandung cantik-cantik?”.

Pada kali pertama dan kedua pertanyaan ini terasa biasa saja, tapi pertanyaan ini terus bermunculan. Lama-lama terasa sedikit mengganggu, pasalnya aku bukan orang Bandung. Pada satu waktu, temanku yang berasal dari Lampung akhirnya melancarkan serangan pertanyaan itu padaku. Kujawab asal, “karena dulu, pas zaman Belanda, cewek Bandung banyak digundik”.

Jawaban ini spontan kujawab bahkan dengan nada bercanda. Sialnya, dia malah percaya dan merasionalkan jawabanku. Kemudian jadilah kami berdua mendiskusikan rahasia mengapa perempuan Bandung itu cantik-cantik, katanya. Kataku sih…

Sebetulnya jawabanku terilhami dari novel “Bumi Manusia” karangan Pramoedya Ananta Toer. Novel itu berlatar Nusantara pada zaman Hindia Belanda atau sederhananya Indonesia yang masih menjadi negara jajahan Belanda.

Salah satu bagian yang kuanggap penting dalam novel itu digambarkannya pergundikan pada zaman penjajahan Belanda. Gundik dalam KBBI artinya istri tidak resmi atau selir. Mempergundik berarti mengambil seorang perempuan untuk dijadikan gundik.

Dalam novel karya Pram itu diceritakan ada seorang perempuan Jawa Timur bernama Sanikem yang dijadikan gundik oleh seorang pengusaha kaya Belanda, yaitu tuan Mellema. Sanikem adalah anak dari karyawan tuan Mellema. Ia “dijual” oleh ayahnya sendiri pada sang pengusaha Belanda, agar ayahnya mendapat kenaikan pangkat. Singkat cerita, tuan Mellema yang berbangsa Belanda dan memiliki ras kulit putih “bercampur” dengan Sanikem yang berbangsa Hindia (Indonesia) dan memiliki ras kulit sawo matang.

Persilangan gen ini tentu saja menghasilkan gen baru yang kini dikenal dengan istilah blaster-an. Perpaduan gen ini pun sering kali membuat rupa wajah sang anak yang dilahirkan menjadi unik. Meskipun didominasi oleh gen “Barat”, unsur lokalitasnya masih tetap terlihat. Entah mengapa masyarakat kebanyakan menyepakati bahwa bentuk dan rupa seperti inilah yang dikatakan tampan atau cantik.

Lebih parahnya, keberadaan penjajah Belanda di Nusantara tersebar di mana-mana. Terlebih di pulau Jawa, karena pulau Jawa dijadikan sebagai sentral pemerintahan mereka pada masa itu. Jelas, Bandung termasuk kota yang senang mereka huni. Selain dari sejarah yang berkisah demikian, peninggalan-peninggalan fisik seperti bangunan khas Belanda banyak dijumpai di Bandung. Ini menjadi tanda bahwa mereka pernah hidup di Bandung. Bisa jadi jawaban yg kulontarkan pada temanku itu benar adanya, dan memungkinkan jika pergundikan itu juga terjadi di sana. Iya kan?

Penjajah silih berganti, datang dan pergi. Dimulai dari Portugis, Perancis, Inggris, Belanda, dan lain-lain. Alasan-alasan mengapa para penjajah, termasuk Belanda, mendatangi Indonesia pasti adalah karena rempah-rempah. Ini adalah sejarah online yang akan kamu jumpai di banyak referensi. Suatu hari aku menemukan sisi sejarah offline tentang kedatangan mereka ke Nusantara. Hal ini minim sekali diketahui.

Para penjajah itu sebagian besar datang dari Eropa. Iklim Eropa yang memiliki empat musim akan mencapai titik dingin yang sangat ekstrim, pada saat daratan mereka tertutupi oleh salju. Maka dari itu, mereka rela pergi jauh untuk mencari sesuatu yang mampu menghangatkan. Dan Indonesia adalah tempat yang sangat magnetik.

Indonesia yang beriklim tropis dan memiliki tanah subur, membuat segala macam tanaman tumbuh di sana. Itu laksana surga bagi mereka. Rempah-rempah, seperti bawang-bawangan, cabai, tembakau, dan cengkeh yang mereka temui di Nusantara adalah barang-barang yang mampu menghangatkan badan.

Tapi kemudian mereka melihat ada “sesuatu” yang mampu menghangatkan badan selain rempah, dan sesuatu itu ada pada perempuan. Jadilah kebutuhan biologis mereka disalurkan pada para perempuan Nusantara yang mereka jadikan gundik. Tenang saja kawan, ini terjadi ratusan tahun lalu.

Saat statusmu hanya sebagai gundik, niscaya kau akan ditinggalkan begitu saja oleh si Belanda ini. Akhirnya si gundik akan tertatih-tatih membesarkan anak yang mengalir darah orang Eropa di dalamnya, sendirian.

Waktu berlalu, sejarah terus diukir. Satu-persatu orang Belanda hengkang dari bumi Nusantara sampai bersihlah Nusantara dari mereka. Tetapi darah-darah Eropa sudah terlanjur mengalir pada mereka yang ibunya merupakan perempuan Nusantara.

Seorang anak blaster-an, pada umumnya dipuji-puji tampan jika laki-laki dan cantik jika perempuan. Mungkin saja, entah kakek atau nenekmu pada beberapa generasi sebelumnya adalah berdarah Eropa. Hanya kemungkinan, walaupun rasional.

Kehidupan terus berjalan, generasi terus dilahirkan. Begitu pun dengan Bandung, atau kota-kota lainnya yang pada masa Hindia Belanda menjadi kota yang para penjajah huni. Pasti ada perempuan-perempuan, rela atau tidak rela, yang dijadikan sebagai gundik hingga melahirkan bayi-bayi. Darah daging yang dialiri darah Eropa. Pada masa sekarang, mungkin gen Eropa-nya tidak akan begitu nampak karena sudah diselang oleh beberapa generasi. Selain memang Tuhan menakdirkan begitu, ya begitulah jalan rasionalnya, suka atau tidak suka. Salah satu cikal-bakal, asal-muasal kecantikan perempuan Bandung berawal.

Maafkan aku cewek Bandung. Dengan hormat, tak ada sedikit pun maksud menghinakan. Tapi kalian membuatku, cewek Cianjur, menjadi sedikit repot. Karena ke-Sunda-an kita, membuat kita dipukul rata menjadi perempuan Bandung. Dan untuk semua perempuan yang bukan berasal dari Bandung, tidak usah khawatir dengan pujian cantik. Dia terlalu relatif.

Sekali lagi, maafkan aku cewek Bandung!

 

Penulis: Dwi Impiani

Editor : Huza