Kontes Nyanyi Anak-anak: Membangun atau Mencederai?

0
208

Aku heran dengan kontes nyanyi-nyanyian anak-anak itu, terlepas dari macam kontes lainnya, pun aku selalu berseberangan pandangan. Tapi kali ini aku gemas ingin membahas kontes nyanyi-nyanyian yang sedang ngetop itu katanya. Indonesian Idol Junior.

Meskipun secara keseluruhan sebenarnya kita tidak bisa menaruh harapan lagi pada acara-acara televisi Indonesia, tapi berpikir kritis itu tetap perlu, dan menyuarakannya adalah sebuah sikap yang tidak boleh hilang.

Belum lama ini ajang pencarian bakat untuk anak-anak itu kembali digelar sejak bulan Agustus lalu. Seperti biasanya, peminatnya pun selalu banyak dan penuh antrian.

Belakangan aku tertarik untuk mengamatinya lewat Youtube dan satu hal yang menarik perhatian sekaligus mengganggu pikiran adalah dari seluruh peserta yang bernyanyi, sudah dipastikan mereka akan menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang isinya tentang percintaan, per-patah-hati-an, perselingkuhan, pun pertikungan.

Itu hasil pengamatanku. Jika pun lagu tentang pertemanan, pastilah bertemakan pertemanan laki-laki dan perempuan. Dan sudah tentu lagu-lagu dengan bertemakan itu semua dinyanyikan oleh peserta yang usianya sekitar 5-14 tahun. Miris!

Aku menyadari memang semakin sini lagu-lagu anak semakin asing terdengar, tidak seperti anak-anak generasi 90-an. Rasanya dulu lagu-lagu anak masih sering dinyanyikan saat bermain dengan teman-teman kala itu. Di tengah kondisi yang seperti ini kontes pencarian bakat ini malah mendukung ketidak-populeran lagu anak sekarang. Nyatanya, panitia dan juri membiarkan anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa sejak audisi hingga panggung spektakuler berlangsung.

Menurut Anji mantan vokalis Drive di akun Youtube-nya, yang juga pernah menjadi juri ajang pencarian bakat anak, hal itu bisa terjadi disebabkan tidak banyaknya jumlah lagu-lagu anak yang cocok dibawakan untuk ajang kompetisi, sedangkan untuk menyiasatinya adalah dengan cara mengganti beberapa liriknya disesuaikan dengan usia anak yang bernyanyi.

Well, buatku alasan tersebut tidak berterima. Karena aku yakin, dibalik itu semua, yang namanya televisi, pasti yang diperhitungkan itu adalah rating dan sejuta keuntungannya untuk tetap menayangkan program tersebut. Jadi, secara tidak sadar mereka justru lebih memilih mengorbankan tercederainya jiwa-jiwa anak demi meraup keuntungan setinggi-tingginya.

Kalau memang itu alasannya harusnya tidak perlulah membuat prorgam kontes-kontesan untuk anak yang justru jadi tidak ramah anak karenanya. Lebih jauh lagi aku ingin bilang bahwa ini salah satu praktik eksploitasi tak disadari, komoditas kapital di televisi, dan Indonesia kecolongan lagi.

Hal tersebut bukan lagi soal lucu-lucuan, tapi ini persoalan yang perlu menjadi perhatian banyak orang. Kalian bisa browsing lebih jauh mengenai dampak lagu orang dewasa bagi anak-anak, baik saat dinyanyikan maupun saat diperdengarkan.

Berikut ini adalah beberapa dampak secara psikologis yang kukutip dari beberapa artikel. Seorang psikolog anak, Ratih Ibrahim mengatakan bahwa dampak yang terjadi pada anak dapat berupa kerusakan jiwa, cara menalar, dan persepsi soal hidup. Selain itu saat bernyanyi maupun mendengarkan lagu, anak-anak akan mudah mencerna setiap kata-kata dalam lagu tersebut, sehingga kosa kata itu akan menjadi kosa kata yang random berulang dalam pikirannya, yang kemudian pasti akan memengaruhi perilakunya.

Sejalan dengan cara pandang Islam, kita mengenal konsep ‘Aqil dan Baligh. Singkatnya, ‘Aqil merupakan suatu kondisi seseorang yang sudah mencapai kematangan dan kedewasaan secara psikologis, sosial, dan syariat. Baik kematangan berpikir maupun bersikap. Sedangkan baligh merupakan suatu kondisi seseorang yang sudah mencapai kematangan fisik, berupa pertumbuhan secara biologis.

Belakangan, konsep ‘aqil baligh ini menjadi ramai diperbincangkan di kalangan para pelaku parenting, mereka yang meyakini bahwa Indonesia banyak mengantarkan manusia cepat menjadi baligh bahkan sebelum waktunya, tetapi belum juga ‘aqil meski sudah seharusnya sampai pada waktu ‘aqil dan baligh.
Fenomena anak-anak yang menyanyikan atau mendengarkan lagu-lagu orang dewasa ini dapat menjadi salah satu penyumbang penyebab percepatan baligh-nya seorang anak, tanpa dibarengi dengan ‘aqil secara seimbang. Sehingga baligh-nya terlalu cepat, sedangkan ‘aqil-nya terlambat.

Seorang anak yang menyanyikan lagu-lagu orang dewasa bertema percintaan misalnya, lambat laun dia akan mencoba mencerna kata-kata dalam lagu tersebut, juga akan merasakan hal-hal yang seharusnya belum ia rasakan. Anak-anak akan mudah jatuh cinta dengan tidak seharusnya karena mengikuti lirik yang ada pada lagu misalnya, jiwanya akan terguncang, dengan begitu kedewasaannya secara biologis akan cepat bertumbuh dan orang di sekelilingnya kewalahan menyeimbangkannya dengan kedewasaan akalnya. Yang justru keseimbangan tersebut akan membuat dia seimbang pula dalam menyikapi kehidupan.

Hal ini lah yang disebut dengan dewasa sebelum waktunya yang tidak diimbangi dengan kedewasaan bersikap, berpikir, dan bertindak.

Kembali ke persoalan kontes-kontesan anak, banyak orang yang masih perlu disadarkan bahwa terkadang cara orang dewasa memperlakukan anak dengan niat mengembangkan potensinya, memfasilitasi kemampuan mereka, ternyata jika caranya salah justru bisa menjadi bumerang bagi kehidupan anak ke depannya. Secara tidak sadar orang dewasa selalu menjadi penyumbang tercederainya fitrah-fitrah anak yang seharusnya tumbuh tanpa harus terlukai dunia mereka yang seharusnya.

Mari beri ruang anak sesuai dengan usianya, jangan pernah paksa mereka untuk menjadi orang dewasa sebelum waktunya.

 

Penulis : Eneng Huzaematul Badriah

Editor : Dwi Impiani