Kisah Lamaran koboi; Referensi Buat Kamu yang Ingin Menikah

0
261

Kamu pasti pernah atau sering mendengar hal-hal unik seputar lamaran. Lebih tepatnya soal melamar perempuan yang kamu persiapkan untuk jadi pendamping hidup. Tentang si pria yang berupaya mempersiapkan segalanya agar tidak mengecewakan, dan si wanita dan keluarganya yang sibuk mempersiapkan suasana tempat lamaran agar romantis bahkan mungkin instagramable.

Kamu, laki-laki atau perempuan pembaca artikel ini, mungkin pernah membaca atau melihat konten berupa  tulisan atau foto yang menggambarkan betapa syahdu dan manisnya pemasangan cincin pertunangan dengan background atau suasana tempat yang bisa dibilang unyu-unyu atau kekinian mungkin istillahnya. Entah itu pertanyaan atau bukan, intinya postingan ini mau menceritakan pengalaman yang berbeda, tentang seorang kawan yang kesehariannya banyak menghabiskan waktu di depan laptop dan telah melangsungkan pertunangan.

Sedalam samudera cintanya terhadap laptop, bahasa pemrograman dan tokoh anime perempuan, ternyata kawanku ini masih terpikir untuk melamar dan menikahi pacarnya.

Waktu hampir tengah malam saat dia menelpon, bercerita tentang rencananya ingin membawa keluarga dan teman terdekat untuk pergi melamar. Ia juga cerita bahwa nenek pacarnya sangat ingin acara pernikahan nanti cukup mewah. Saya merasa luar biasa dan ingin tertawa mendengarnya. Tapi saya antusias dan akan berupaya menyiapkan mobil bagaimana pun caranya. Di usia yang sudah kepala tiga ia pasti sudah merasa sangat ingin untuk berkeluarga, selain itu juga mungkin agar terlepas dari sindiran-sindiran yang cukup nyelekit dari orang sekitarnya.

Sebagai seorang yang sudah cukup mandiri, sempat terpikir olehnya tidak perlu membawa orang tua ke acara lamaran. Toh pembicaraan dengan ibu kandung dan ayah tiri si perempuan sudah selesai. Begitupun dengan walinya. Bahkan sudah juga keliling ke seluruh keluarga besar sang calon istri yang berada di area Jakarta, Depok dan Bekasi. Tapi tetap dalam urusan yang cukup sakral ini, sosok orang tua mutlak diperlukan. Begitu tradisi kita.

Ayah kawan saya ini sudah lama wafat. Ingat betul tempo hari saya sedang di Jakarta, mendengar kabar duka itu dan langsung pergi ke rumah duka di Tangerang. Hubungan dengan Ibu, keluarga dan saudara lainnya pernah tidak begitu dekat. Dengan prinsip yang dipegang, ia lebih suka mengambil resiko tinggi untuk mencapai cita-citanya.Termasuk jika harus jauh dari keluarganya. Tapi kali ini, ia benar-benar butuh seseorang yang lebih dewasa untuk berbicara mewakili diri dan keluarganya.

Gaya lamaran kawan saya ini sebenarnya “koboi”, “kagok edan” atau apalah istilah yang tepat untuk menggambarkannya.

Jelang hari H, ia sempat panik karena beberapa keluarganya yang direncanakan akan ikut mengantar malah memberi kabar tidak bisa karena satu dan lain hal yang sangat penting. Ibunya sempat sulit dihubungi. Tapi untungnya hanya masalah teknis komunikasi saja, untungnya lagi juru bicara keluarga sudah disiapkan. Sebutlah namanya Gus. Saya sendiri sampai harus menjemput Gus ke rumahnya yang memiliki waktu tempuh sekitar 4 jam dari rumah saya.

Dini hari sebelum waktu lamaran dimulai, level kepanikan kawan saya ini meningkat. Lewat sebuah komunikasi, Gus yang direncanakan hadir ternyata tiba-tiba kena sakit kepala yang luar biasa. Keberadaan saya sempat ia tanyakan juga, Gus billang ia tidak tahu akan dijemput oleh saya. Kawan saya juga mempertanyakan posisi saya yang tidak jelas kabarnya. Padahal seharusnya paling telat saya sudah sampai Jakarta dari subuh.

Hanya tinggal beberapa jam lagi menuju pukul 10.00 wib. Perut keroncongan, kabar yang tidak jelas, ditambah kondisi sedang pusing akibat belum tidur, akhirnya membuat kawan saya berpikir untuk nekat pergi sendiri ke acara lamaran. Biar nanti diceritakan saja kondisinya, terserah gimana nanti tanggapan keluarga besar calon istrinya yang katanya sudah 20 orang siap hadir.

Kabar dari saya akhirnya datang setelah ia melewati tiga stasiun kereta. Hal itu membuatnya harus kembali ke titik pertemuan yang dari awal sudah direncanakan. Tidak lama kemudian saya dan Gus akhirnya menyambut sang koboi dengan gelak tawa. Dia kena prank. Wajahnya pucat, lesu, ditambah kantung muka fan rambut yang cukup gondrong membuat pagi hari itu semakin jenaka. Entah berapa puluh kata umpatan keluar dari mulutnya.

Kalau dilihat sekilas, persiapan kawan saya ini agak kurang maksimal. Tapi sebenarnya secara substansi ia sangat-sangat siap.

Kita tertawa lagi saat ia dengan polosnya tidak tahu ada tradisi saling memberi buah tangan. Biasanya pelamar memberikan buah tangan untuk keluarga calon istri, begitupun sebaliknya. Tidak wajib memang, tapi selalu dianggap sebagai pemanis oleh masyarakat kita. Setelah menjemput ibu dan adiknya di Tangerang, kita langsung mencari toko kue terdekat. Toko HollandBakery jadi tujuan utama kita. Kekurangan pembayaran di kasir, Gus yang backup.

Kawan saya ini bukan nggak modal untuk acara lamaran. Setahu saya uang simpanannya terkuras banyak waktu renovasi rumahnya yang sempat terkena gempa di Rangkasbitung. Untuk acara ini ia juga  tidak jadi memesan gitar custom yang cukup mahal harganya, sampai uang yang sudah diserahkan harus ditarik lagi. Terlalu lebay mungkin kalau disebut mati-matian. Tapi memang usaha dan penampilannya memperlihatkan seperti itu.

Saya sendiri sempat mengkritik penampilannya; celana jeans, kemeja yang agak kusut dan rambut  gondrong ala opa korea mungkin anak sekarang menyebutnya. Jawabnya sederhana “ah urang mah geus pasrah weh kumaha ngke”, yang artinya ah, saya sudah pasrah gimana nanti saja.

Mungkin karena ia sudah dikenal baik oleh keluarga besar dan niat baik yang sudah diutarakan sebelum acara lamaran kepada mereka, penerimaannya sangat hangat. Saat acara, peran Gus sebagai juru bicara juga sanggat signifikan. Apa adanya kawan saya, keseriusan dan niat baik yang ia miliki saat ini diolah sedemikian rupa oleh Gus, menjadi kalimat-kalimat yang bernilai. Tanggapan atas maksud dan kedatangan kawan saya bersama rombongan yang hanya lima orang ini pun ditanggapi positif oleh keluarga besar si perempuan. Soal acara pernikahan nanti mau seperti apa wujudnya, prinsipnya asal tidak saling memberatkan.

Tapi  dipikir-pikir, kawan saya ini sepertinya salah tempat konsultasi. Lamaran saya dan Gus sendiri sebenarnya agak koboi juga.

 

Penulis   : M Salman Ramdhani
Editor     : Enuza
Ilustrasi : gallery601.com