Katanya Hidup Kita Pernah Baik-baik Saja Tanpa Sosial Media

0
335

Beberapa hari lalu, penggunaan sosial media sempat dibatasi karena tragedi baku hantam dan kekisruhan yang terjadi pada tanggal 22 Mei, saat saya lagi senang-senangnya lunjah-lenjeh (bermalas-malasan) di kasur. Kekisruhan ini membatasi masyarakat mengakses sosial media, di antaranya Facebook, Youtube, Instagram, dan Whatsapp. Alhamdulillah-nya, Free Fire masih bisa diakses.

Tentunya hal ini menimbulkan kerugian besar untuk orang-orang yang memiliki usaha di sosial media. Namun pada akhirnya, kita bisa lihat bahwa katanya kita pernah tidak apa-apa tanpa sosial media.

Berbeda dengan saya yang terlahir pada tahun 1997, yang katanya termasuk generasi melek internet ini tentunya merasa kesulitan gara-gara pembatasan penggunaan sosmed selama beberapa hari. Karena hal pertama yang saya lakukan setelah bangun tidur adalah cek notifikasi handphone. Bayangkan saja, tumbuh dan berkembang fase kehidupan saya dibarengi dengan perkembangan sosial media.

Jenjang sekolah dasar (SD) kelas 5, saya sudah aktif bermain Friendster. Lanjut kelas 6, saya sudah punya akun Facebook. Masuk SMP, saya main Plurk dan mulai bikin Blog nggak jelas yang isinya curhat masalah pelajaran dan drama pertemanan. Kelas delapan SMP, kawan-kawan saya sudah punya BBM dan kelas sembilan saya sudah aktif nge-tweet. Kemudian kelas satu SMA, teman-teman saya sudah aktif main Instagram, Path, Foursquare, Line dan lain sebagainya. Masa alay, labil, begog, remaja, akil-balig, dewasa dan lain seterusnya tidak terlepas dari pengawasan internet. Namun jangan salah, meski saya punya track record yang terkesan candu terhadap sosial media, saya tetap percaya kehidupan kita sebenarnya pernah tidak apa-apa tanpa sosial media.

Saya percaya, kehidupan sebelumnya adalah hal yang sangat misterius untuk dijalani, kita tidak bisa tahu kehidupan orang lain dengan mudahnya, begitupun sebaliknya. Orang-orang pasti pernah makan makanan enak, hang-out bersama kawan terkasih, mandi di bathtub hotel, liburan dengan pemandangan terbaik, atau tiduran sambil menatap jendela. Semua aktivitas standar dilakukan dengan jalannya masing-masing tanpa merasakan adanya rasa persaingan dalam melakukan itu.

Selanjutnya ketika pagi hari datang, hal pertama yang dilakukan bukanlah cek notifikasi handphone yang diwarnai dengan berita trending tentang drama lucinta luna, drama sampah politik, ataupun sampah-sampah lainnya, karena orang-orang tidak memiliki akses yang mudah untuk mendapatkan berita-berita sampah itu. Orang-orang biasanya bangun hanya untuk mematikan alarm, tidak dibersamai dengan membuang waktu untuk stalking kawan lama ataupun kawan yang sempat terkasih. Kegiatan yang dilakukan bangun tidur adalah kegiatan nyata tanpa potret dengan caption: “late breakfast, and morning coffee” yang dilakukan sebelum makan.

Ketika siang hari pun, di tengah hiruk pikuknya jalanan orang-orang masih menganut malu bertanya sesat di jalan, bukan malu bertanya Google Maps menjawab. Semua orang saling sapa dan bertanya dengan nyata meski tanpa tap dua kali. Semua orang bahagia pada jalannya masing-masing tanpa pengaruh dari respon 22k followers . Tidak ada imajinasi yang dibatasi, karena kreativitas hadir dari keterbatasan pada masanya, tanpa scroll up atau down tutorial dari Youtube atau Google.

Di samping itu, hanya kita yang tahu kebutuhan kita lebih dari pada apapun sebelum ada kehadiran algoritma, informasi pribadi sangat terbatas begitu juga informasi orang lain. Maka dari itu, berinteraksi adalah satu-satunya jalan mengobati rasa penasaran tanpa stalking lewat story di sosial media.

Katanya, orang-orang yang hidup berkembang sebelum hadirnya sosial media adalah orang-orang yang nyata. Tidak ada yang mereka kenal dan ketahui kecuali Tuhan dan dirinya sendiri tanpa campur tangan kecerdasan artifisial. Nasihat terbaik adalah nasihat yang mereka tanyakan langsung secara nyata, bukan dari algoritma yang bisa mengolah data pada biokimiawi otak yang bisa mendeteksi niat sekalipun. Keputusan yang mereka ambil juga merupakan keputusan nyata hasil dari kehendak diri dan saran yang berkembang dari lingkungan tanpa hasil dari nasihat yang diinterversi lagi oleh mesin.

Sekarang kita hidup di era yang cukup berbeda, semua orang bisa terhubung dan mengakses segala informasi tanpa batasan. Semua orang bisa mengetahui seluruh informasi dalam tataran global hanya dengan sentuhan ujung jari.

Ibaratnya begini, Yuval Noah Harari pernah menjelaskan dalam buku Homo Deus, jika dulu penduduk asli di abad ke-15 pernah terpukau dengan manik-manik yang didatangkan dari imperialisme Eropa yang rela mereka tukar dengan hasil bumi atau bahkan pulau. Maka di era sekarang, sumber daya yang berharga itu adalah data pribadi yang tidak kita sadari. Sementata manik-maniknya berupa layanan digital, akun pertemanan, atau hanya sekedar menonton video kucing yang menggemaskan.

Namun nyatanya setelah tragedi 22 Mei 2019 pulih, ketika penggunaan sosial media tidak dibatasi lagi, rasanya dunia kita kembali sepenuhnya.

Penulis: Alni Nur Firani

Editor : Impiani

Gambar:http://cdn2.tstatic.net/sumsel/foto/bank/images/dibelenggu-sosialmedia_20180603_031306.jpg