Kapitalisme, Modernisasi, dan keterkikisan Humanisme dalam Sepak Bola

0
255

 “This book isn’t about the modern era, all seater stadia, corporate hospitality, superstar prima-donnas, and football as a’product’. This is a nostagic look in the days before the premier league and satellite television. The days before Saturday morning, Sunday afternoon, and Monday night kick-off in order to fit in with the worldwide television audience…”

Kutipan ini saya ambil dari buku “When football was football: a nostalgic look at a century of football” yang ditulis oleh Richard Havers. Buku ini semacam illustrated history yang mengisahkan klub-klub Inggris seperti Liverpool, Manchester United, dan yang lainnya. Semuanya menceritakan tentang perjalanan klub dari sejak lahir, potret Liga Inggris dari masa ke masa, hingga tahun terakhir liga utama inggris sebelum berganti nama menjadi Liga Primer pada tahun 1992. Singkat kata, ini buku soal romantisme sepak bola kala itu.

Dari buku itu saya jadi lebih banyak tahu sejarah sepak bola, khususnya Liga Inggris sebelum era Liga Primer. Sebagai fans Liverpool, saya sering diejek oleh fans Manchester United karena dianggap lebih sering bernostalgia. Sejak terahir memenangkan trofi Liga Inggris pada musim 1989-1990, tepat 2 tahun sebelum Liga Primer bergulir, sampai saat ini memang Liverpool belum juga berhasil mengakhiri masa paceklik di liga lokal. Sementara Manchester United mendominasi Liga Primer terlebih saat mereka diasuh oleh Alex Ferguson.

Perbedaan kualitas liga seringkali dijadikan alasan ketika ditanyai: apa bedanya Liga Inggris tempo dulu dengan Liga Primer yang selalu mereka banggakan. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa kualitas Liga Primer lebih sulit. Namun saya katakan itu tidak relevan, karena tingkat kesulitan di masing-masing zaman tidak bisa dibandingkan. Pun jika mereka menganggap bahwa persaingan di era Liga Inggris lebih mudah dibanding Liga Primer, lalu kenapa Manchester United sulit menjuarai Liga Inggris selama 26 tahun, sebelum Alex Ferguson mambawa United menjuarai Liga Primer pertama pada tahun 1992-1993. Bahkan pada musim 1973-1974 United terdegradasi ke divisi 2 Liga Inggris, sesuatu yang tidak pernah terjadi pada liverpool.

Dari perdebatan itu saya hanya ingin menyatakan, tidak relevan jika kita membandingkan jumlah trofi berdasarkan kualitas liga di masing-masing zaman. Lalu bagaimana soal kapitalisme, modernisasi, dan keterkikisan humanisme dalam sepak bola?

Merujuk pada buku “When football was football: a nostalgic look at a century of football”, perbedaan yang signifikan dari Liga Inggris dan Liga Primer adalah elemen televisi. Hari ini tidak hanya di Inggris, mungkin sudah hampir di seluruh liga di dunia, kompetisi sepak bola profesional sangat memperhatikan audiens televisi, karena siaran televisi dinilai lebih menguntungkan daripada jumlah penonton yang datang ke stadion. Televisi membuat sepak bola harus “didisiplinkan”; stadion dipagar, penonton diawasi ketat, aturan di atas lapangan dipertegas. Untuk mencegah adanya permainan kasar, klub diharuskan mengatur perilaku pemain. Mendadak, menyaksikan sepak bola seperti menonton pertunjukan teater, semua harus duduk rapi berjejer. Gelombang fans Liverpool yang berdiri bergerak seperti air bah yang memenuhi stadion Anfield sembari menyanyikan “She love you”-nya The Beatles seperti yang pernah saya lihat di Youtube, kini tinggal kenangan.

Sebuah film animasi stop motion berjudul “Early Man” yang disutradarai Nick Park adalah salah satu gambaran kritik terhadap kapitalisme dalam sepak bola modern. Film tersebut mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Dug yang hidup pada zaman batu yang tinggal di sebuah lembah hijau dan harus mempertahankan tanah leluhurnya dari gugatan Lord Nooth yang jahat dan rakus. Nooth menemukan adanya logam yang melimpah di lembah tersebut dan ingin menjadikannya sebagai tambang logam, kemudian Nooth berhasil mengambil alih lembah tersebut.

Pada saat itu sepak bola sudah sangat populer di daerah kekuasaan Nooth, sedangkan Dug dan teman-temannya yang tidak mengerti sepak bola harus memenangkan pertandingan melawan tim milik Nooth yang ditaburi pemain hebat, jika ingin tanahnya kembali. Tetapi mereka harus bekerja ditambang milik Nooth jika kalah. Di film itu Nooth bertingkah seperti pemilik klub sepak bola pada umumnya yang hanya duduk menonton dan memikirkan keuntungan di setiap pertandingan tak peduli apa yang terjadi di lapangan. Berbeda dengan pendampingnya Queen Oofeefa yang menginginkan pertandingan adil dan menghibur. Saya curiga ini adalah film pencitraan dari federasi sepak bola internasional FIFA. Astagfirulloh…

Singkat cerita, saat pertandingan dimulai, Goona salah satu teman Dug yang menyemangati timnya berkata “Tidak perlu takut, mereka bukanlah pemain sepak bola, mereka hanya 11 orang yang menganggap dirinya bintang!”

Dari film tersebut terlihat bahwa Nooth hanya menjadikan sepak bola sebagai alat untuk mengeruk keuntungan saja, berbeda dengan apa yang diinginkan Oofeefa. Sepak bola sebagai olahraga yang fair dan menghibur.

Belakangan, sepak bola sudah sepenuhnya menjadi urusan bisnis dan kehilangan unsur manusiawi. Pencarian bakat pemain tidak lagi menggunakan insting yang diasah bertahun-tahun, namun melalui kalkulasi stastistik yang dianggap lebih terukur. Penambahan teknologi garis gawang dan VAR (video assistant refree) membuat keadilan di atas lapangan tidak hanya ditentukan oleh wasit saja. Juga masuknya makelar bernama agen pemain semakin mengikis sifat humanis dalam sepak bola.

Kini pelatih dan klub tidak bisa berhubungan langsung dengan pemain. Pemainpun menjadi jual mahal dan menyerahkan semua urusan bisnis dan legal kepada agen yang tentu tidak gratis. Klub pun dikelola seperti korporasi multinasional setelah masuknya investor dari Amerika, China, Thailand, Malaysia, Timur Tengah, hingga Rusia. Kekuatan masing-masing klub sangat tidak seimbang dan tidak merata tergantung siapa pemilik klub tersebut. Sudah dapat dipastikan jika klub dimiliki oleh seorang miliuner akan bertabur bintang, berbeda dengan klub yang hanya dimiliki oleh investor kecil-kecilan. Singkat cerita, liga-liga di dunia akan didominasi oleh klub “beruang”. Hal ini bahkan membuka peluang terjadinya kecurangan seperti pengaturan skor, tapi kali ini saya tidak akan membahas itu.

Semua akhirnya memang menjadi lebih teratur, jika merujuk kepada logika kapitalisme. Gordon Gekko, salah satu tokoh dalam film “Wall Street” mengatakan bahwa dalam kapitalisme: greed is great, rakus itu baik. Maka saat ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa anak-anak sekarang tidak lagi terdorong bermain sepak bola karena kegembiraan, tapi karena uang.

Saga transfer Coutinho ketika memutuskan pindah dari Liverpool ke Barcelona adalah contoh yang layak. Data statistik yang melambung di atas kertas tidak menjamin kualitas di atas lapangan, nominal transfer yang melangit, tidak menjamin produktivitas gol yang bersarang di gawang lawan.

 

Penulis: Maulana Fil Husni
Editor: Impiani
ilustrasi : stat.ks.kidsklik.com