Hegemoni Musik Amerika

0
187

“Kelas dominan melakukan penguasaan kepada masyarakat kelas bawah menggunakan ideologi. Masyarakat kelas dominan merekayasa kesadaran kelas bawah sehingga tanpa disadari, mereka rela dan mendukung kekuasaan kelas dominan.”

Seorang perempuan bernama Nunikwidjaya menarik kesimpulan sebuah teori yang dicetuskan oleh Gramsci tentang Hegemoni dalam tulisan ilmiahnya. Gramsci mengatakan bahwa hegemoni adalah sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial.

Umum diketahui oleh masyrakat, terlebih kalangan yang berkonsentrasi di bidang akademik dan kebudayaan, hegemoni adalah tindak dominasi melalui jalur kebudayaan yang dilakukan oleh kaum dominan kepada kaum inferior. Berbagai kebudayaan yang dipaksakan global seperti fashion, food, life style, bahkan seni bermusik.

Barat yang sering kali diidentikan dengan Amerika, selaku masyarakat kelas dominan adalah juga sebagai pelaku penyebar kebudayaan, karena Amerika memiliki kekuatan ekonomi yang sangat besar. Dalam buku Hubungan Internasional Kontemporer yang ditulis oleh May Rudy hal 19, ia menjelaskan bahwa kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang di dunia umumnya dan di kawasan Asia-Pasifik khususnya tidak bisa dilepaskan dari usaha-usaha, pengaruh serta tindakan Amerika Serikat sebagai negara hegemoni yang menjamin terpeliharanya sistem perekonomian global yang liberal.

Tentu saja Indonesia pun tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh kekuatan Amerika. Selain urursan ekonomi dan politik, bidang kebudayaan pun pengaruh Amerika begitu kuat di dalamnya. Salah satu kebudayaan Amerika yang meradang di Indonesia adalah musik. Amerika yang menjunjung tinggi nilai-nilai liberalisme tentu saja juga berpengaruh pada kebebasan masyarakatnya untuk berekspresi termasuk dalam bidang seni musik. Hal dibuktikan dengan begitu banyak band, penyanyi, dan musik yang dijadikan industri. Dan dengan kekuatannya, musik-musik mereka tidak hanya didengarkan oleh lokal, tetapi juga internasional termasuk Indonesia.

Musik-musik Barat mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1950-an melalui radio-radio. Pada masa itu kondisi Indonesia yang memilih non-blok dalam perang dingin, semula nampaknya tidak ingin memihak pada salah satu kekuasaan dan ingin bersikap netral. Tetapi dengan kekuatan yang begitu besar yang dimiliki oleh Amerika, apalagi Amerika keluar sebagai pemenang dalam perang dingin itu, pengaruhnya terhadap negara berkembang sangat kuat dan tidak bisa dinafikan.

Kondisi musik Indonesia kisaran tahun 1950-an sangat terpengaruh oleh musik Amerika, Soekarno selaku presiden pada masa itu melihat kekhawatiran pada fenomena ini. Ia memiliki pemikiran jauh ke depan. Berawal dari musik, musik yang dianggapnya salah satu penyebar kebudayaan Barat lambat laun akan me-ninabobo-kan rakyat Indonesia dengan pesonanya dan yang lebih ganas akan menumpulkan daya cipta masyarakat Indonesia. Atas dasar itu, Soekarno membuat kebijakan pelarangan terhadap segala sesuatu yang berasal dari Barat, termasuk pelarang memainkam musik Barat digalakkan pada masanya. Musisi-musisi di Indonesia dilarang memainkan lagu berbahasa Inggris. Sejak saat itu banyak band Indonesia yang semula menggunakan bahasa Inggris untuk penamaan bandnya, mereka mengubahnya menjadi bahasa Indonesia dan menyanyikan lagu yang bersifat pop Indonesia.

Seiring dinamika kekuasaan yang terjadi di Indonesia, pada  tahun 1965, lebih tepatnya setelah tragedi G30S/PKI kebijakan anti-Barat mulai mengalami perubahan dan sirna perlahan. PKI yang dirasa juga menjadi suatu kekuatan yang berbahaya bagi keberlangsungan NKRI, maka pada 1 Oktober 1965 PKI sah dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia, sehingga sejak saat itu dimulailah penangkapan-penangkapan tokoh dan anggota PKI oleh ABRI (Angkatan Bersenjata Rakyat Indonesia), hal ini tertulis di dalam buku Industri Musik Indonesia : Suatu Sejarah yang ditulis oleh Muhammad Mulyadi halaman 19.

Masih dalam buku ini, pada halaman selanjutnya ditulis bahwa dalam penangkapan PKI, ABRI memandang membutuhkan kerja sama dengan rakyat, berintegrasi. Hal ini diwujudkan ABRI dengan mengadakan pertunjukan musik yang dinamai “Panggung Prajurit: dengan memboyong musisi dan penyanyi-penyanyi tanah air yang pada masa Soekarno dilarang untuk tampil karena membawakan lagu Barat. ABRI melihat bahwa musisi adalah alat revolusi, maka dari itu pihak ABRI tidak mempermasalahkan lagu apa yang dibawakan oleh para penyanyi pada acara tersebut.

Kebijakan inilah yang perlahan mengembalikan simpati masyarakat, khususnya musisi, kepada pemerintah. Sejak saat itulah para musisi merasa aman untuk kembali berekspresi lewat musik dan mulai kembali hadir ke permukaan dengan jumlahnya yang terus meningkat.

Laju peningkatan jumlah musisi di Indonesia dilihat sebagai celah lain, yaitu celah ekonomi. Tidak hanya sekedar dalam bidang seni, akhirnya musik menjadi suatu industri yang lambat laun sangat menjanjikan. Yang pada awalnya para musisi berpandangan bahwa musik hanya sebatas hobi dan kesukaan, kini melebar menjadi musik sebagai mata pencaharian. Kondisi seperti ini tidak lepas dari tindak Amerika selaku negara hegemoni yang menginspirasi bangsa-bangsa lain bahwa musik adalah simbol dari kebebasan, kebebasan mengekspresikan diri.

Musik begitu penting bagi Amerika. Dilihat dari historis Amerika mengenal musik, abad ke-18, berawal dari ceramah seorang Pendeta bernama Thomas Symnes perihal memperbaiki kemampuan menyanyi dan membaca musik di gereja, maka sekolah musik pertama didirikan di Boston tahun itu, kemudian terus menyebar ke seluruh Amerika Serikat.

Hingga abad 20 pelajaran tentang musik terus diseriuskan, dibuktikan dengan adanya program Bachelor untuk musisi. Puncaknya pada 2007, pada acara simposium ”Tangledwood II : Charting the Future”. Amerika berefleksi pada 40 tahun pendidikan musik sejak simposium Tangledwood pertama tahun 1967 dan mendeklarasikan musik menjadi prioritas selama 40 tahun selanjutnya. Menjadikan jelas keseriusan Amerika terhadap musik dipilari oleh berbagai kalangan; musisi, politisi, hingga orang-orang yang berada di ranah ekonomi.

Musik adalah senjata menyebarkan kebudayaan yang sangat ampuh, bahkan sengaja dicari oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Indonesia pun menjadikan Amerika sebagai barometer kualitas bermusik. Pembelajaran musik, teknik produksi musik, sampai kepada marketing musik. Maka ketergantungan Indonesia selaku kaum inferior menjadi begitu besar terhadap Amerika. Atau Amerika sebagai kelas dominan telah merekayasa kesadaran Indonesia selaku kelas bawah, sehingga Indonesia si kelas bawah rela dan mendukung kekuasaan Amerika si kelas dominan.

Penulis : Dwi Impiani

Editor : M. Salman Ramdhani