Gunung Lawu Brawijaya Moksa

0
130

Kemarin itu pendakian terjauh yang pernah dilakukan. Naik dari Cemorosewu Kab. Magetan, Jatim, turun Cemorokandang Kab. Karanganyar, Jateng wkwkwkwk. Pendakian lintas provinsi.

Kalau ke Gunung Lawu, jangan aneh bila berpapasan dengan sekelompok orang yang naik atau turun dengan pakaian dan ransel seadanya. Terus kalau diperhatikan di ranselnya akan ada kembang sedap malam yang dibungkus plastik dan dupa yang terselip di salah satu kantong luar ranselnya. Kalau sedang berjalan dari pos 3-4 (masuk Cemorosewu) terus tiba-tiba tercium wangi dupa, jangan aneh juga itu bukan datang dengan sendirinya, melainkan ada yang sengaja membakar dupa. Kalau diperhatikan biasanya hal ini terjadi di belokan samping jalan.

Gunung Lawu emang mistis. Ya iyalah, apalagi kalau naiknya lewat Cemorokandang. Setelah gerbang masuk, kita bakal bertemu batu yang disungkup di bawahnya penuh sesajen dan tempatnya persis di depan mesjid. Bagi sebagian temen-temen pasti stres liat itu “Ini apa-apaan?”. Ya udah jangan komentar kalo gak ngerti, cukup lewat aja kecuali mau berhadapan dengan masyarakat setempat yang sudah begitu kepercayaannya. Tapi kalau mau bijak, ini simbol dari masyarakat setempat yang masih kuat antara nilai budaya Jawa dengan Islam (ini kalau dibahas panjang juga dan menimbulkan banyak persepsi). Kalau kata leluhurku “buhun disuhun sara dibabawa.

Sepanjang perjalanan dari pos 2 sampai puncak kita pasti bakal sering ketemu burung Jalak Lawu. Burung ini kayaknya nggak takut sama manusia, mungkin karena sudah sering liat manusia, jadi biasa saja. Burung ini termasuk burung endemik Gunung Lawu atau disebut jalak gading dengan nama latin Sturnus sp. Para pendaki menganggapnya sebagai hewan penunjuk jalan, karena setiap perjalanan selalu ada. Mitosnya burung ini berasal dari pengikut Brawijaya V yaitu Kyai Jalak. Tapi kalem we ulah reuwas ku mitos ngaran, tapi ulah ngentengkeun oge (Santai saja tak perlu kaget dengan mitos nama, tapi jangan menyepelekan juga). Hanya mesti tahu bahwa bagi orang Jawa, penamaan untuk hewan dan barang yang spesial selalu diawali nama Kyai, seperti pada nama keris ada Keris Kyai Sengkelat, pada hewan kerbau bule keraton namanya Kyai Slamet, dan sebagainya. Konon, jalak ini spesial menemani Prabu Brawijaya selama di Gunung Lawu.

Dalam peta Junghuhn terdapat peta Gn. Lawu tahun 1838. Di situ diterangkan ada pondasi tinggi berbentuk persegi panjang yang terbuat dari batu. Tempat ini namanya Hargodalem, tempatnya memanjang dari Utara ke Selatan. Tempatnya sekarang sudah rimbun oleh pohon santigi atau kata orang setempat, namanya manis rejo. Ada pula undakan batu menuju puncak, satu dari arah timur, satu dari arah utara. Terus ada lagi tempat pemukiman sementara, sekarang sudah ada bangunan pendopo yang dibangun oleh Keraton Surakarta. Kini disamping pendopo banyak warung semi-permanen, termasuk warung paling terkenal senusantara yaitu warung Mbok Yem yang kata temen mah jutek abis. Urang teu kadinya, da wegah teu someah. Tapi bisa jadi, teu someah teh nyaeta hiji sistem pertahanan sangkan batur teu sakadaek maneh. (Aku tidak pergi ke sana, males kalau jutek. Tapi bisa jadi, kejutekan itu adalah suatu sistem pertahanan agar orang-orang tidak berbuat seenaknya).

Sebenarnya mengetahui tempat Hargodalem itu tidak sengaja. Niat awalnya mau buang air kecil, mencari semak belukar untuk melaksanakan ritual pagi-pagi, tepatnya pukul setengah 6. Berjalan agak menjauh dari kamp, melewati sedikit padang savana, dan akhirnya ketemu banyak pohon santigi rimbun. Namun ketika diperhatikan, na aya batu numpuk meni rea, batu teh numpukanana siga kieu, na gening aya tuluyanana. Ke ke ke, ieu mah batuna disusuna dihaja dijieun, sabab rapih. Tuluy dipapay, naha gening panjang. Reret kana panon poe, reret kana waruga lemahna, reret kana puncak gunungna tuluy ditilik-tilik sabudeureunana. Beu ieu mah nunjang ngidul, geus pasti lawangna di kaler atawa sabalikna. Ceuk pikir harita. Sanggeusna dipapay sing horeng kapanggih, lawangna ti beh kaler. (Namun ketika diperhatikan, ada banyak batu yang bertumpuk, batu yang tumpukannya memiliki pola dan ada terusannya. Pasti, susunan batu tersebut sengaja dibuat, karena rapi. Kemudian terus kutelusuri, mengapa susunan batu ini panjang. Kulihat matahari, lihat puncak gunungnya, kemudian kuperhatikan sekitarnya, sudah pasti pintunya di sebelah utara atau sebaliknya. Pikirku waktu itu. Setelah kutelusuri akhirnya kutemukan juga pintunya di sebelah utara).

Eh kemudian ada tangga, masuk jangan, masuk jangan, masuk ah… Cihuuuuyyy masuk tempat mistis nih. Rapopo, pengalaman biar adem hahaha. Jangan suka yang geli-geli aja, yang merinding-merinding juga mesti dicoba, sensasinya sama-sama berdebar wkwkwk. Terus masuk plonga-plongo kayak orang bego kesasar, potret kiri kanan. Jalan lurus terus ke dalam melewati tiga undakan yang dikelilingi dinding batu setinggi 2 meter sampai mentok dan ketemu deh ujungnya ada sungkup dinding kuning. Singhoreng aya tempat nyajen, na gening teu ka urus (Ternyata ada tempat nyajen yang sudah tidak terurus). Terasa adem, tenang. Nggak ada apa-apa, sarupaning muringkak bulu punduk. Ngan ceuk rarasaan mah ulah lila teuing we, sabab lapar. Mending ngaroko heula we sabatrok wae mah. (Tidak ada apa-apa, tapi tetiba bulu kuduk berdiri. Insting mengatakan untuk tidak berlama-lama, sebab lapar. Mending meroko saja barang sebatang). Sambil sebatrok -sebatang rokok-, terus keluarlah dari tempat itu. Di luar ketemu lagi sama jalak Lawu yang mengikuti sejak dari pos 2, dan ada perkutut juga. Tanda, saatnya kembali ke kamp.

Oh iya lupa belum dibahas, menurut ceritanya Prabu Brawijaya melakukan moksa di Gn. Lawu dan di Sendang Drajat Prabu Brawijaya bertemu dengan Sunan Kalijogo. Kalau kata orang Sunda, ya Sunan Kalijaga, sama orangnya itu itu aja. Nah ini bahasan menarik nih tentang moksa. Moksa sama nggak yah sama ngahyang? Beda! Sama! Beda! Sama! Udah nggak usah komen, atau mikir jauh-jauh tentang moksa atau mekso, nanti puyeng. Lebih dekat ke gila sih, lebih sopannya out of the box wkwkwkwk.

Kalau dibahas kan nanti bakal ngobrol tentang metodenya moksa sama ngahyang, referensi lokalnya ada atau nggak, dan tahapannya kayak gimana. Terus alasan melakukan moksa itu apa, tujuannya apa, kapan mesti melakukan kegiatan moksa, siapa saja yang mesti dikasih tahu kalau mau moksa. Lanjut moksa itu untuk kepentingan diri sendiri atau untuk siapa, kelengkapan moksa itu apa saja, pokoknya 5W 1H.

Kira-kira ada gak referensinya? Kalaupun ada pasti itu ilmu rahasia. Maksud rahasia karena zaman dulu, hanya orang lingkungan keraton yang terpilih dan mendalaminya, terutama putra mahkota. Putra mahkota sudah mesti digembleng dengan laku spiritual, karena kebutuhannya untuk mengatur rakyat dan isi jagat, jadi ia mesti bijaksana. Nah kalau mau tahu tentang moksa atau ngahyang jangan tanya ke Prabu Brawijaya dan Prabu Siliwangi, tanyalah pada gurunya, biar lebih mudah dipahami. Biasanya, seorang guru akan tahu kelayakan seseorang untuk mempelajari sesuatu. Nanti biar ada masukan dan saran. Jadi untuk sementara carilah dulu guru yah, biar nggak nyasar, kecuali atas kehendak-Nya. Itu lain cerita. Hatur nuhun.

(Ditulis dalam suasana kongkorongok hayam, aya buku murag sorangan, budak ceurik hayang susu, sora budak tatangga nyaring tur kopi nu geus nepi ka dedekna angger diuyup). Ditulis dalam suasana pagi dengan ayam yang berkokok, ada buku yang jatuh sendirinya, anak kecil menangis ingin susu, suara anak tetangga yang nyaring, dan kopi yang sudah nyaris habis tapi masih diminum).

 

Penulis   : Agung Priyaguna Irfan
Editor     : Impiani
Ilustrasi : kompasiana.com